LAPORAN
PRAKTIKUM KELELAHAN KERJA
DENGAN MENGGUNAKAN REACTION TIMER
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Laboratorium
Kesehatan Kerja
Dosen Pengampu : Drs. Herry
Koeswoyo, M.Kes
Kelompok
:
1. Rizqi Lukman Hakim 6411409006 2. Yanuar Ricky Fajar 6411409023
3. Hikmatu Maulana F. 6411409055
4.Rendra Kukuh P. 6411410075
JURUSAN
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS
ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2013
I.
TUJUAN
1.
Untuk mengetahui alat yang digunakan
untuk mengukur kelelahan.
2.
Untuk mengetahui bagian-bagian dan
cara kerja dari alat pengukur kelelahan.
3.
Untuk dapat menganalisa data hasil
pengukuran.
II. LATAR BELAKANG
Kelelahan
adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan
lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Istilah kelelahan
biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi
semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja
serta ketahanan tubuh.
Terdapat dua
jenis kelelahan, yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot
merupakan tremor pada otot atau perasaan nyeri pada otot, sedangkan kelelahan
umum ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh
monotoni (pekerjaan yang sifatnya monoton), intensitas dan lamanya kerja fisik,
keadaan lingkungan, kondisi mental dan psikologis, status kesehatan, dan gizi.
Pengaruh-pengaruh tersebut terakumulasi di dalam tubuh manusia dan menimbulkan
perasaan lelah yang dapat menyebabkan seseorang berhenti bekerja
(beraktivitas).
Tanda-tanda kelelahan yang utama adalah hambatan terhadap
fungsi kesadaran otak dan perubahan-perubahan pada organ diluar kesadaran serta
proses pemulihan orang-orang yang
menunjukkan:
1. Penurunan
perhatian.
2. Perlambatan
dan penghambatan persepsi.
3. Lambat
dan susah berpikir.
4.
Penurunan kemauan dan dorongan untuk bekerja.
Kelelahan
dapat diatasi dengan beristirahat untuk menyegarkan tubuh. Apabila kelelahan
tidak segera diatasi dan pekerja dipakasa untuk terus bekerja, maka kelelahan
akan semakin parah dan dapat mengurangi produktivitas pekerja.
Untuk mengetahui tingkat kelelahan ini dapat dilakukan
pengukuran-pengukuran seperti diantaranya dengan pengukuran waktu
reaksi dengan reaction timer, uji
ketukjari (fingger-tapping test), uji
flicker fusion, critical
flicker fusion, uji
Bourdon Wiersma Skala
kelelahan IFRC (Industrial Fatique Rating Committe), Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan
Kerja (KAUPK2) dan lainnya dengan
indikator
pengukuran kelelahan kerja adalah
waktu
reaksi dan rasa lelah.
Pada praktikum kelelahan kali ini, alat yang digunakan
adalah Reaction Timer yang mempunyai rangsangan berupa suara
atau cahaya. Pengukuran waktu
reaksi ini memerlukan
beberapa kriteria termasuk
satu
set meja dan kursi serta ruangan yang tenang untuk pengukuran.
III.
ALAT
DAN BAHAN
1. Reaction
timer.
2.
Lembar data reaction timer.
3.
2 kursi dan 1 meja.
4.
Alat tulis.
IV.
PRINSIP
KERJA
1. Pengukuran
dilakukan oleh seorang operator dengan menggunakan alat reaction timer.
2. Operator
memilih probandus kemudian dilakukan pengambilan data, dimana tiap probandus melakukan pengukuran sampai 20
kali.
3. Operator dalam menekan saklar sensor rangsang diusahakan
temponya variatif.
4. Probandus diusahakan tidak melihat
operator saat dilakukan pengukuran
agar data yang didapat lebih valid.
5. Setelah
pengukuran,
hasil dicatat dalam blangko yang sudah disediakan.
V.
CARA
KERJA
1. Menyiapkan
alat dan bahan yang dibutuhkan.
2. Menghubungkan
alat dengan sumber tenaga (listrik).
3. Menghidupkan
alat dengan menekan tombol “ON/OFF” pada ON.
4. Memastikan
angka 0,000 pada alat jika angka belum menunjukan angka 0,000 maka menekan
tombol NOL untuk me-reset.
5. Memilih
rangsang suara atau cahaya yang dikehendaki degan menekan tombol
“suara/cahaya”.
6. Meminta
probandus yang akan diperiksa untuk menekan tombol subyek (kabel hitam), dan
meminta secepatnya menekan tombol subyek
(kabel hitam) setelah melihat cahaya atau mendengar bunyi
rangsang.
7. Menekan
tombol pemeriksa (kabel biru) untuk memberikan rangsang pada responden.
8. Setelah
memberikan rangsang dan probandus menekan tombol maka pada layar kecil akan
terlihat angka waktu reaksi dengan satuan mili detik.
9. Melakukan
pemeriksaan sebanyak 20 kali baik rangsang suara maupun rangsang cahaya. Dimana pemeriksaan nomor 1-5 dan nomor
16-20 dihilangkan karena
nomor 1-5 adalah dalam taraf penyesuaian alat dan
nomor 16-20 dianggap tingkat kejenuhan mulai muncul.
10. Mencatat hasil pada lembar data reaction timer.
11. Mematikan alat dengan menekan tombol “on/off” dan
melepaskan alat dari sumber tenaga.
12. Menganalisis hasil dan membuat laporan praktikum.
VI.
HASIL
PENGUKURAN
a.
Waktu
Praktikum
Hari/tanggal :
Jumat/15 Maret 2013
Tempat :
Laboratorium IKM UNNES
Pukul :
07.00 WIB
b.
Identitas
Probandus
Nama
Responden : Rendra Kukuh P,
Usia : 20 tahun
Jenis
Kelamin : Laki-laki
c.
Hasil
Pemeriksaan
no
|
kecepatan reaksi (mili detik)
|
|
suara
|
cahaya
|
|
1
|
210,1
|
104,4
|
2
|
175,1
|
193,7
|
3
|
200,1
|
225,8
|
4
|
222,2
|
219,3
|
5
|
243,5
|
197,4
|
6
|
183,5
|
194,0
|
7
|
201,2
|
219,5
|
8
|
192,0
|
272,3
|
9
|
236,7
|
210,1
|
10
|
197,9
|
264,9
|
11
|
244,4
|
180,4
|
12
|
199,1
|
192,1
|
13
|
189,3
|
192,1
|
14
|
194,6
|
213,7
|
15
|
122,8
|
231,7
|
16
|
213,3
|
244,1
|
17
|
189,0
|
222,3
|
18
|
192,8
|
201,2
|
19
|
179,2
|
218,1
|
20
|
189,8
|
182,3
|
VII.
HARGA NORMAL/NAB
Tingkat
Kelelahan = rata-rata hasil pengukuran kelelahan (data ke-6 sampai ke-15). Tingkat kelelahan dapat dibagi menjadi :
1.
Normal
(N) :
150,0 - 240,0 mili detik
2.
Tingkat Kelelahan Kerja Ringan (KKR) :
240,0 < X < 410,0 mili detik
3.
Tingkat Kelelahan Kerja Sedang (KKS) :
410,0 ≤ X < 580,0 mili detik
4.
Tingkat Kelelahan Kerja Berat (KKB) :
≥ 580,0 mili detik
VIII.
PEMBAHASAN
Praktikum
kelelahan kerja dilakukan 20 kali pemeriksaan. Namun data yang digunakan hanya 10 data saja, yaitu data ke-6 hingga ke-15, karena
data pemeriksaan nomor 1-5 dan nomor
16-20 dihilangkan dengan alasan pemeriksaan 1-5 adalah taraf penyesuaian alat
dan pemeriksaan 16-20 dianggap taraf kejenuhan mulai muncul. Sehingga didapatkan hasil probandus
sebagai berikut:
= 196,15 mili
detik
= 196,15 mili
detik
= 217,08mili
detik
Berdasarkan dari kriteria tingkat
kelelahan, maka dapat dianalisa bahwa
probandus termasuk dalam tingkat normal.
Pengukuran dengan menggunakan alat Reaction Timer ini
dilakukan karena alat ini memiliki kelebihan seperti penggunaannya yang mudah, dan
tidak membutuhkan waktu yang lama. Selain
itu juga dapat melihat
tingkat kelelahan subyek pada waktu apapun (pagi atau sore). Akan tetapi alat ini juga memiliki kekurangan yaitu Pengukuran kelelahan mengharuskan pemeriksa melakukan
sebanyak 20x, untuk mendapatkan data yang tepat. Reaction timer hanya bisa berjarak
maksimal 0.5 meter dari subyek.
IX.
PENUTUP
a. Simpulan
Dari
hasil perhitungan dan pembahasan data pengukuran tingkat kelelahan dapat
diambil kesimpulan bahwa probandus termasuk
dalam tingkat
normal, tidak mengalami kelelahan.
b.
Saran
·
Alat sebaiknya diperbaiki atau ditambah agar
praktikum berjalan lebih lancar.
·
Praktikan diharapkan dapat mengatur
ritme/tempo dalam melakukan pengukuran agar hasil yang didapat lebih valid.
Praktikan diharapkan mencari posisi yang tepat agar probandus tidak melihat
ketika melakukan pengukuran.
boleh tanya tempat penyewaan reaction timernya dmn ya?
BalasHapusGambling in Las Vegas - ChoDie Casino
BalasHapusThe Gambling City offers a range 메리트카지노 of different 제왕카지노 casino games. 카지노 Here's what you can play at ChoDie Casino - the place to play with real money.